Create Account - Sign In
Browse - New Book - My Books - Sell - Groups - $19 ISBNs - Upload / Convert - Help - follow us!   

Advertisement



578170.html

Delik Aduan 

Delik aduan adalah delik yang hanya dapat dituntut, jika diadukan oleh orang yang merasa dirugikan. Delik aduan sifatnya pribadi/privat, yang memiliki syarat yaitu harus ada aduan dari pihak yang dirugikan. Selain itu, yang dimaksid dengan delik aduan/klach delict merupakan pembatasan inisiatif jaksa untuk melakukan penuntutan. Ada atau tidaknya tuntutan terhadap delik ini tergantung persetujuan dari yang dirugikan/korban/orang yang ditentukan oleh undang-undang. Delik ini membicarakan mengenai kepentingan korban. Dalam ilmu hukum pidana delik aduan ini ada dua macam, yaitu :1. Delik Aduan absolute (absolute klacht delict)2. Delik aduan relative (relatieve klacht delict)1. Delik Aduan absolute (absolute klacht delict)Merupakan suatu delik yang baru ada penuntutan apabila ada pengaduan dari pihak yang dirugikan. Dan yang diadukan sifatnya hanyalah perbuatannya saja atau kejahatannya saja. Dalam hal ini bahwa perbuatan dan orang yang melakukan perbuatan itu dianggap satu kesatuan yang tetap bermuara pada kejahatan yang dilakukan. Oleh karena itu delik aduan absolute ini mempunyai akibat hukum dalam masalah penuntutan tidak boleh dipisah-pisahkan/onsplitbaar.Contoh : A dan B adalah suami istri. B berzinah dengan C dan D. Dan A hanya mengadukan B telah melakukan perbuatan perzinahan. Namun, karena tidak dapat dipisahkan/onsplitbaar maka tidak hanya B saja yang dianggap sebagai pelaku, tetapi setiap orang yang terlibat suatu perbuatan atau kejahatan yang bersangkutan yaitu C dan D secara otomatis (sesuai hasil penyelidikan) harus diadukan pula oleh A. Setidaknya delik perzinahan tidak dapat diajukan hanya terhadap dader/mededader saja, melainkan harus keduanya dan pihak lain yang terlibat.Adapun macam-macam delik yang terdapat dalam KUHP yang termasuk dalam Delik Aduan Absolut, sebagai berikut :? Pasal 284 KUHP, tentang perzinahan.? Pasal 287 KUHP, bersetubuh di luar perkawinan dengan seorang wanita berumur di bawah lima belas tahun atau belum waktunya untuk kawin.? Pasal 293-294 KUHP, tentang perbuatan cabul. ? Pasal 310-319 KUHP (kecuali pasal 316), tentang penghinaan.? Pasal 320-321 KUHP, penghinaan terhadap orang yang telah meninggal dunia.? Pasal 322-323 KUHP, perbuatan membuka rahasia.? Pasal 332 KUHP, melarikan wanita.? Pasal 335 ayat (1) butir 2, tentang pengancaman terhadap kebebasan individu.? Pasal 485 KUHP, tentang delik pers.2. Delik aduan relative (relatieve klacht delict)Yakni merupakan suatu delik yang awalnya adalah delik biasa, namun karena ada hubungan istimewa/keluarga yang dekat sekali antara si korban dan si pelaku atau si pembantu kejahatan itu, maka sifatnya berubah menjadi delik aduan atau hanya dapat dituntut jika diadukan oleh pihak korban.Dalam delik ini, yang diadukan hanya orangnya saja sehingga yang dilakukan penuntutan sebatas orang yang diadukan saja meskipun dalam perkara tersebut terlibat beberapa orang lain. Dan agar orang lain itu dapat dituntut maka harus ada pengaduan kembali. Dari sini, maka delik aduan relative dapat dipisah-pisahkan/splitsbaar.Contoh : A adalah orang tua. B adalah anaknya. Dan C adalah keponakannya. B dan C bekerjasama untuk mencuri uang di lemari A. Dalam perkara ini jika A hanya mengadukan C saja maka hanya C sajalah yang dituntut, sedangkan B tidak.Dari kasus di atas bisa dilihat bahwa delik aduan relative ini seolah bisa memilh siapa yang ingin diadukan ke kepolisian. A karena orang tua dari B, maka ia tidak ingin anaknya yaitu B terkena hukuman pidana, dia hanya memilih C untuk diadukan, bisa karena dengan pertimbangan C bukanlah anaknya. Namun jka kita bandingkan dengan contoh kasus pada delik aduan absolute, dalam kasus perzinahan itu, walau si A hanya kesal dengan salah satu pelaku perzinahan itu, ia tidak bisa hanya mengadukan orang itu saja, karena bagaimanapun konsekuensinya, pihak lain yang terlibat juga dianggap sebagai pelaku.Adapun macam-macam delik yang terdapat dalam KUHP yang termasuk dalam Delik Aduan Relatif, sebagai berikut :? Pasal 367 ayat (2) KUHP, tentang pencurian dalam keluarga.? Pasal 370 KUHP, tentang pemerasan dan pengancaman dalam keluarga.? Pasal 376 KUHP, tentang penggelapan dalam keluarga? Pasal 394 KUHP, tentang penipuan dalam keluarga.? Pasal 411 KUHP, tentang perusakan barang dalam keluarga.C. Ketentuan Dalam KUHPDalam KUHPidana, mengenai delik aduan ini diatur dalam pasal 72-75 KUHP. Dan hal-hal yang diatur dalam KUHP ini adalah, sebaga berikut :1. Mengenai siapa yang berhak melakukan pengaduan terhadap pihak yang dirugikan/korban yang masih berumur di bawah enam belas tahun dan belum dewasa.2. Mengenai siapa yang berhak melakukan pengaduan, apabila pihak yang dirugikan/korban telah meninggal.3. Penentuan waktu dalam mengajukan delik aduan.4. Bisa atau tidaknya pengaduan ditarik kembali.

Delik Aduan atau klachdelict sebagai alasan gugurnya hak menuntut pidana 

Berdasarkan analisi yuridis oleh The Great Lawyer di 14:37 

Secara sistematik yang dimaksud dengan Delik Aduan/klachdelict? merupakan pembatasan inisiatif jaksa untuk melakukan penuntutan? ada atautidaknya tuntutan terhadap delik ini tergantung persetujuan dari yang dirugikan/korban/orang yang ditentukan oleh undang-undang.?delik ini membicarakan mengenai kepentingan korbanKlachdelict/perlindungan korban? pertimbangan dimana dalam beberapa hal tertentu kepentingan bagi yang dirugikan lebih besar dari kepentingan negara untuk menuntut (van Hazewinkel, Suringa, Van Hattum, Pompe)?berubahnya pemikiran mengenai delik aduan?kepentingan publik lebih besar dari kepentingan pribadi maka tidak perlu adanya pengaduan untuk melakukan penuntutan, contoh: pembunuhan, pencurian.

Wetboek Van Strafvandering?keharusan adanya aduan menjadi syarat supaya dituntutPasal 22: Perzinahan, penghinaan, penggelapan hanya dapat diusut/disidik/dituntut sesudah diterimanya/berdasarkan aduan dari pihak yang dirugikan.Delik aduan hendaknya dicantumkan dalam KUHAP dan bukan KUHP karena membahas hukum secara formil (tata cara pelaksanaan hukum materiil)Pendapat Utrecht: klacdelict hanya melarang penuntutan (vervolging) dan tidak melarang pengusutan (opsporing) oleh polisi guna menjaga keamanan barang bukti ketika diadakan pengaduan dari pihak yang berhak.Pendapat Wiryono: Polisi tidak bisa melakukan pengusutan tanpa adanya pengaduan karena pekerjaan polisi akan sia-sia saja bila tidak ada pengaduan yang datang dari pihak yang berhak.Klachdelict vs Asas Oportunitas Bisakah jaksa memanfaatkan asas oportunitas ketika ada delik aduan?Bisa, dengan alasan kepentingan umum dirugikan apabila jaksa melakukan penuntutan berdasarkan pengaduan dari pihak yang berhak. Contoh: pasal 319. Contoh kasus: ketika menteri kesehatan menyatakan waspada flu burung (terlepas dari benar tidaknya isu tersebut), pihak peternak yang merasa dirugikan dengan pengumuman itu (karena mengakibatkan pendapatannya berkurang) dapat ditolak pengaduannya oleh jaksa dengan alasan untuk menjaga kepercayaan rakyat terhadap menteri kesehatan.Delik aduan ?absolut: pasal 284,287,293, 319,322,332?relatif: 367, 370, 394Delik aduan relatif: hanya keadaan tertentu saja suatu delik menjadi delik aduanAlasan delik aduan relatif:- susila (kepatutan)Contoh: anak mencuri uang ortu- materiil (hukum)Implikasi hukum dalam delik aduan relatif, contoh: istri/suami mencuri uang pasangan, maka dalam hubungannya dengan UU no 1/1974, kecuali diperjanjikan maka tidak dapat dituntut (perjanjian pemisahan harta kekayaan)Delik aduan relatif biasanya berhubungan dengan delik harta kekayaanUntuk delik yang absolut, penuntutan tidak dapat dipecah (onsplitbaar) ?splitting tidak dapat dilakukan. Contoh: - delik perzinahan tidak dapat diajukan hanya terhadap dader/mededader saja, melainkan harus keduanya- penadahanDalam UU PKDRT, yang bisa diadukan adalah kekerasan seksual dan fisik. Yang berhak mengadukan ialah:- istri/suami- keturunan dengan garis lurus ke atas atau menyimpang sampai derajat ketiga- untuk anak di bawah umur oleh wali/wali pengawasnyaPasal 72: yang berhak mengadukan ialah:- korban secara langsung- untuk anak yang belum cukup umur, orang tua kandung, angkat, dan waliJangka waktu pengaduan sejak korban mengetahui:- dalam waktu maksimal 6 bulan bila terjadi di dalam negeri- dalam waktu maksimal 9 bulan bila terjadi di luar negeri Pasal 74: Jangka waktu pencabutan aduan: 3 bulan sejak diadukan ?selama jangka waktu tersebut, pengaduan dapat dicabut dan diadukan kembali? pencabutan dan pengaduan dapat dilakukan berkali-kali hanya dalam jangka waktu 3 bulan sejak diadukan pertama kalinya oleh pihak korbanPada prinsipnya aduan yang sudah dicabut tidak dapat diajukan lagi (mengingat adanya jangka waktu pencabutan dan pengaduan kembali adalah singkat, yaitu 3 bulan sejak pengaduan pertama kali dilakukan)



two page view?

Advertisement



Share "Delik aduan":

Download for all devices (14 KB)